Ekspedisi Pendakian Gunung Slamet Via Penakir
Mahasiswa Elektromedik Pencinta Alam (MELPA) Jakarta
Gunung Slamet Via Penakir
Gunung Slamet jalur Via Penakir ini adalah gunung berapi aktif yang
terletak di Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Provinsi
Jawa Tengah, Indonesia. Dengan ketinggian mencapai 3.428 MDPL yang
merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah dan gunung tertinggi kedua di Pulau
Jawa setelah Gunung Semeru. Gunung ini masih tergolong aktif hingga saat ini
dan sering mengalami erupsi skala kecil. Aktivitasnya vulkaniknya sering
dipantau karena potensi erupsi yang dapat memengaruhi wilayah sekitarnya.
Letak Geografis Gunung Slamet 7°14’30” Lintang Selatan dan 109°12’30” Bujur
Timur. Masyarakat sekitar Gunung Slamet memiliki ketergantungan yang erat
dengan gunung tersebut. Gunung ini menjadi sumber kehidupan, tempat wisata,
dan bagian tak berpisah dari budaya dan tradisi mereka.
Dengan karakter stratovolcano, Gunung Slamet memiliki potensi letusan
yang cukup tinggi dan tercatat sebagai salah satu gunung api paling aktif di Pulau
Jawa. Gunung Slamet juga memiliki makna penting dalam kepercayaan dan
budaya masyarakat sekitar. Nama "Slamet" sendiri dalam Bahasa Jawa berarti
“selamat” atau “aman”, yang mencerminkan harapan agar gunung ini membawa
perlindungan dan keselamatan. Dalam mitos Jawa kuno, Gunung Slamet
dipercaya sebagai puncak Gunung Meru dari India yang dipindahkan oleh Dewa
Brahma dan Wisnu sebagai pasak bumi untuk menjaga keseimbangan Pulau Jawa.
Bahkan menurut legenda, menyatakan bahwa Gunung Slamet erat kaitannya
dengan masa penyebaran Islam. Pada awalnya Gunung Slamet bernama Jamur Dipa.
Pada suatu hari, ada ulama yang asalnya dari Turki Berusaha menyebarkan
ajaran Islam di Kawasan sekitar Jamur Dipa, ulama tersebut bernama Syekh Maulana Al Maghribi,Syekh Maulana Maghribi kemudian mengganti nama Jamur Dipa sebagai Gunung
Slamet. Alasannya, karena gunung ini pernah meletus dengan Dashyat nya maka dari
itu Syekh Maulana Al Maghribi mengumpulkan para Kyai di sana dan mengganti nama
Gunung dari Jamur Dipa menjadi Gunung Slamet yang artinya adalah selamat.
Masyarakat yang tinggal di daerah Gunung Slamet atau lebih tepatnya yang
tinggal di daerah Desa Penakir dengan mayoritas memeluk agama Islam. Desa
Penakir ini merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan
Pulosari Kabupaten Pemalang. Desa Penakir terbagi menjadi beberapa dusun
yaitu Dusun Krajan, Dusun Sawangan, Dusun Sarangan, Dusun Sigeblok dan
Dusun Wanasari. Jumlah penduduk di Desa Penakir kurang lebih 10.000 jiwa,
dan juga di Desa Penakir terdapat 28 RT dan 10 RW. Basecamp Penakir berada
di Dusun Sarangan tepatnya di RT 18/06.
Mayoritas penduduk Desa Penakir bekerja sebagai petani. Untuk mata
pencaharian penduduk sekitar mayoritas sebagai petani tembakau dan juga
petani sayur mengkondisikan dengan kondisi cuaca yang sedang terjadi.
Jika keadaaan desa sedang kemarau kering, banyak para warga yang Bertani
tembakau. Namun, jika kondisi cuaca sedang hujan, para warga di desa
dominan untuk melakukan pekerjaan sebagai petani sayur.
Dalam waktu musiman para masyarakat untuk Bertani tembakau atau
sayuran biasanya Bertani sayuran dilakukan pada kisaran bulan Januari hingga
bulan Maret, dan untuk masyarakat melakukan Bertani tembakau biasanya
dilakukan pada sekitar bulan Maret hingga September.
Masyarakat di Desa Penakir mempunyai adat istiadat atau kegiatan
setiap satu tahun sekali yaitu Upacara Ruwat Bumi yang digelar pada setiap
tahun pada bulan Sura atau Muharram, khususnya pada malam Selasa Kliwon
atau Jum’at Kliwon. Dalam ritual ini, masyarakat mempersiapkan sesaji,
mengadakan pertunjukan seni seperti ogoh – ogohan, lengger dan pertunjukan
calung, serta melakukan penyembelihan kambing sebagai permohonan
keselamatan, ketentraman, dan keharmonian antara manusia dengan alam.
Basecamp Penakir
Gunung Slamet di Jawa Tengah mempunyai Basecamp yang terdapat
di Desa Penakir, Kec.Pulosari, Kab.Pemalang, Jawa Tengah. Basecamp
Penakir terletak pada titik koordinat BT 109 º14’26” LS 07 º11’40” dengan
ketinggian 1.325 MDPL. Pada Basecamp Penakir terdapat fasilitas seperti
Tempat istirahat, Toilet, Warung makan dan area parkir.
Pos 1 Watu Payung
Pos I (Watu payung) asal mula nama Watu Payung ini berasal dari batu yang
menyerupai bentuk payung yang terletak 200 meter dari pos I (Watu Payung).
Untuk mencapai Pos I (Watu Payung), Tim harus melewati perkebunan warga dan
mulai masuk ke daerah hutan pinus. Setelah memasuki daerah perkebunan, track
perjalanan merupakan jalan yang dicor yang menanjak.
Sepanjang perjalanan vegetasi yang dominan disini merupakan tanaman perkebunan
seperti tomat, tumbuhan tomat ini memiliki bentuk bulat, berwarna hijau, kuning dan
juga merah. Tomat ini bisa tumbuh dari dataran rendah hingga tinggi. kol, tumbuhan
kol umumnya di budidayakan di dataran tinggi yang sejuk. Kol ini memiliki ciri khas
daun yang saling menutupi, bentuknya lebar seperti kipas dan memiliki warna daun
yang bervariasi dari putih, hijau hingga merah keunguan. Tembakau, tumbuh optimal
di daerah beriklim tropis dengan curah hujan sedang. Dapat ditanam di dataran rendah
maupun tinggi, memiliki daun yang lebar dengan warna daun bervariasi dari hijau tua
dan hijau terang.
Pada Pos I menuju Pos II, Tim menemukan siput telanjang. Siput
telanjang ini sering dijumpai di tempat yang lembab seperti perkebunan dan
hutan, siput telanjang ini tidak memiliki cangkang luar, bentuk tubuhnya memanjang,
berlendir dan memiliki antena. Siput yang tim temukan sekitar 1 ruas jari orang dewasa.
Pada Pos I (Watu Payung) terletak di koordinat BT 109 º 14’11” LS
07º12’4” dengan ketinggian 1.488 MDPL, memiliki kondisi tanah yang
lembab, pohon pohon pinus yang menjulang tinggi. Tidak ada fasilitas di Pos
I(Watu Payung) juga tidak dapat mendirikan tenda dan pos ini terletak di
jalur pendakian, jarak dari Basecamp ke Pos I (Watu Payung) berjarak
sekitar 1.375 meter dan waktu yang dibutuhkan Tim saat melakukan
perjalanan dari Basecamp menuju Pos I selama 45 menit.
Pos 2 Gunung Cilik
Setelah Pos I(Watu Payung), tim melanjutkan perjalanan menuju ke
Pos II (Gunung Cilik) dengan kondisi jalur tanah yang lembab dan track
sedikit menanjak dengan titik koordinat BT 109 º13’55” LS 07 º12’22”.
Selama melakukan perjalanan menuju Pos II Tim melewati hutan lindung
vegetasi yang rapat dengan jalur track terdapat banyak hewan pacet
hewan pacet ini biasa ditemukan menempel di dedaunan juga di tanah,
ukurannya yang kecil sehingga para pendaki kerap tidak sadar saat pacet
menghisap darah. Di Pos II (Gunung Cilik) Tim menemukan tumbuhan
berupa bunga tepus.
Bunga Tepus ini memiliki warna merah menyala biasa ditemukan didaerah
lembab dan teduh. Saat perjalanan menuju pos II (Gunung Cilik) kami menjumpai
petilasan. Petilasan ini diyakini sebagai petilasan dari mbah Sukmajaya, sesepuh dari
Desa Penakir. Lalu kami melakukan doa bersama dan pada saat selesai
berdoa kami ingin melanjutkan perjalanan dan melihat burung elang jawa
yang sedang terbang berputar burung elang jawa ini memiliki
bentang sayap yang lebar dan ukurannya yang besar dengan bulu berwarna
coklat.
Di Pos II(Gunung Cilik) terdapat lahan yang cukup untuk mendirikan
2 tenda namun tidak di rekomendasikan karena masih dikawasan hutan
lindung habitan hewan liar. Pos II (Gunung Cilik) dengan ketinggian 1.675
MDPL. Jarak antara Pos I sampai Pos II sejauh 825 meter. Tim berjalan dari
Pos I hingga Pos II selama 43 menit.
Pos 3 Wana Sepuh
Setelah melewati Pos II (Watu Payung), Tim melakukan perjalanan
lagi. Untuk menuju Pos III (Wana Sepuh) kata wana sepuh diambil dari
bahasa jawa yang berarti hutan tua dikarenakan kondisi hutan yang
berlumut. Untuk mencapai pos III(Wana Sepuh) melewati track tanah yang
lembab, vegetasi hutan yang lebat dan juga menanjak.
Dari Pos II sampai Pos III masih terdapat banyak hewan pacet dan juga daun
jancukan daun jancukan memiliki daun yang lebar dan berduri
halus jika terkena kulit akan terasa panas. Di Pos III ini terdapat lahan yang
lumayan besar untuk mendirikan 2 tenda. Namun tidak direkomendasikan karena
masih dalam kawasan hutan lindung habitat hewan liar. Pada Pos III ini tim
menemukan daun Pohpohan daun pohpohan ini memiliki
daun yang lebar dan tebal, daun popohan umumnya dikonsumsi sebagai
lalapan segar karena rasanya yang lezat dan kandungan nutrisi serta seratnya
yang tinggi.
Pos III (Wana Sepuh) terletak pada koordinat BT 109 º 13’34” LS 07º12’51”
dengan ketinggian 2.000 MDPL. Jarak antara Pos II sampai Pos III
sejauh 1.100 Km. Tim berjalan dari Pos II hingga Pos III selama 1 jam 35
menit.
Mata Air 1
Mata air I terletak pada koordinat BT 109 º13’27” LS 07 º12’53”
dengan ketinggian 2.050 MDPL. Berjarak 200 meter dari Pos III ke Mata
Air I, memerlukan waktu 10 menit, dengan track yang relatif landai dan
lembab. Mata Air I ini berupa genangan alami, saat mengambil air
perhatikan langkah karena permukaan batu yang licin.
Pos 4 Simbareng Angin
Dari Pos III (Wana Sepuh) menuju Pos IV (Simbareng Angin) kata
Simbareng Angin diambil dari bahasa jawa yang artinya sama sama bernafas
Tim menuju perbatasan hutan lindung dan masih dengan vegetasi yang rapat
dan juga track yang menanjak dengan hutan yang lembab. Terdapat
tumbuhan lumut simbar angin yang menurut warga setempat
dapat dimanfaatkan untuk obat gangguan pencernaan, memiliki bentuk yang
mirip benang atau jenggot, memiliki warna hijau keabu – abuan biasanya
ditemukan di dataran tinggi. Untuk mencapai Pos IV ini melewati track yang
lumayan panjang.
Pada Pos IV (Simbareng Angin) terletak pada koordinat BT 109
º13’19” LS 07 º13’07” dengan ketinggian 2.275 MDPL, Fasilitas yang
terdapat pada Pos IV hanya plang dan terdapat lahan kecil dan miring
sehingga tidak dapat mendirikan tenda untuk bermalam di Pos IV ini. Pos III
menuju Pos IV berjarak 700 meter dan tim menempuh dengan total waktu 1
jam 47 menit.
Mata Air 2
Mata Air II terletak pada koordinat BT 109 º13’18” LS 07 º13’10”
dengan ketinggian 2.325 MDPL. Berjarak 100 meter dari Pos IV ke Mata
Air II, memerlukan waktu 10 menit, Sama dengan mata air sebelumnya
berupa genangan alami dengan track yang sedikit menanjak dan licin. saat
mengambil air perhatikan langkah karena permukaan batu yang licin.
Mata Air 3
Mata Air III terletak pada koordinat BT 109 º13’14” LS 07 º13’29”
dengan ketinggian 2.600 MDPL. Mata air ini berada dibawah Pos V, dengan
jarak 150 meter dengan memerlukan waktu 15 menit dari Pos V. Tim Navdar
menemukan jalur air pada peta dan memutuskan untuk membuka jalur
menuju Mata Air III, dengan track yang rapat dan curam diperlukan webing
dan golok untuk membuka jalur. Pada Mata Air III ini ditemukaan buah
Berry Liar atau Ucen. Berry Liar atau Ucen ini cenderung
asam segar dan sedikit manis, memiliki warna bervariasi oren, merah hingga
ungu, memiliki batang pohon berduri, tepi daunnya bergerigi. Biasa tumbuh
di dataran tinggi yang lembab.
Pos 5 Samyang Wiwitan
Dari Pos IV(Simbareng Angin) menuju Pos V(Samyang Wiwitan) Tim
masih menuju perbatasan hutan lindung dan vegetasi yang masih rapat
dengan track tanah yang lembab, banyak pohon tumbang dan jalur yang
semakin menanjak. Pos V(Samyang Wiwitan) diambil dari bahasa jawa yang
artinya Samyang pertama. Kami menemukan serangga tongkat di pinggir
jalur pendakian serangga tongkat ini memiliki warna coklat dan kemampuannya
berkamuflase dengan menyerupai batang pohon atau ranting dengan memiliki tubuh
yang ramping dan memanjang serta kaki dan antena yang Panjang. Di Pos V
ini memiliki lahan yang hanya cukup untuk 2 tenda jika untuk darurat namun tidak luas.
Pada pos V (Samyang Wiwitan) terletak pada titik koordinat BT
109º13’17” LS 07º13’42” dengan ketinggian 2.613 MDPL. Selama perjalanan
menuju Pos V ini melewati pohon – pohon tumbang yang lumayan besar dan
jarak dari Pos IV untuk sampai di Pos V sangatlah Panjang, sejauh 725
meter. Tim berjalan dari Pos IV hingga Pos V selama 1 jam 35 menit.
Sunrise Camp
Diantara Pos V(Samyang Wiwitan) dan Pos VI(Samyang Jampang) terdapat
sebuah tempat camp yang luas. Pada Sunrisecamp ini terdapat lahan
yang cukup luas untuk mendirikan 10 tenda dan ada lahan untuk membuat
api unggun. Selama perjalanan menuju Sunrisecamp ini kondisi tanahnya
kering, vegetasi berupa rerumputan ilalang.
Selama perjalanan menuju Sunrisecamp ada beberapa pohon yang tumbang.
Tim beberapa kali merangkak untuk melewati pohon yang tumbang. Track yang dilalui
menanjak dan dikiri kanan terdapat jurang yang curam. Sunrisecamp ini
terletak pada titik koordinat BT109º13’17” LS07º13’42” dengan ketinggian
2.780 MDPL. Jarak antara Pos V hingga Sunrisecamp sejauh 350 meter. Tim
berjalan dari Pos V hingga Sunrisecamp selama 58 menit.
Pos 6 Samyang Jampang
Setelah melewati Sunrise Camp, Tim kami melakukan perjalanan lagi.
Untuk summit menuju Pos VI (Samyang Jampang) memiliki arti reruputan
atau ilalang karena saat meunju pos ini di kanan dan kiri track ditumbuhi
ilalang. Pos VI(Samyang Jampang) melewati track tanah lembab yang
menanjak, vegetasi hutan yang masih rapat. Di Pos VI (Samyang Jampang)
ini terdapat batas pembuatan tenda atau lahan yang lumayan besar untuk
mendirikan 4 tenda.
Pos VI (Samyang Jampang) terletak pada titik koordinat BT109
º13’17” LS 07 º13’50” dengan ketinggian 2.913 MDPL. Dari Sunrisecamp
menuju Pos VI memiliki jarak sejauh 275 meter dan total waktu tim
menempuh perjalanan tersebut sekitar 28 menit.
Pos 7 IHING
Dari pos VI(Samyang Jampang) menuju Pos VII (IHING) Ihing diambil
dari nama pohon yang ada di sepanjang track yaitu pohon Ihing. Dengan track
semakin menanjak dengan vegetasi yang semakin pendek, juga rerumputan ilalang.
Tim Kami menemukan bunga Edelweiss di pinggir jalur pendakian. Bunga edelweiss
memiliki daun berwarna putih berbulu halus dengan bunga berwarna kuning, sering
dijuluki sebagai bunga abadi karena tidak mudah layu. Edelweiss Biasa tumbuh di
ketingggian diatas 2.000(MDPL).
Pos VII terletak pada koordinat BT 109 º13’17” LS 07 º13’56” dengan
ketinggian 3.000 MDPL. Dari Pos VI(Samyang Jampang) menuju Pos
VII(IHING) tim membutuhkan waktu selama 20 menit, memiliki jarak
sejauh 175 meter.
Pos 8 STIGI
Tim melanjutkan pendakian menuju pos VIII (STIGI) nama pos ini
diambil dari kata setia dan gigih disingkat menjadi stigi. Dari Pos VII
(IHING) menuju Pos VIII (STIGI) tim melewati track tanah dan terus
menanjak, rerumputan ilalang, juga pohon-pohon yang mulai mengering.
Di Pos VIII (STIGI) Tim kami menemukan burung Anis Gunung Anis Gunung
memiliki ciri-ciri tubuhnya kecil berwarna coklat kehitaman atau coklat keabu-abuan
dengan paruh dan kaki yang berwarna kuning. Burung Anis Gunung biasa
mencari makan di area terbuka, di tanah atau diantara semak – semak.
Tim juga melalui track dengan pohon-pohon kering dan rerumputan ilalang,
dan Bunga Edelwis Jawa.
Pada Pos VIII (STIGI) terletak pada titik koordinat BT 109 º 13’16”
LS 07 º 13’58” dengan ketinggian 3.075 MDPL. Jarak dari Pos VII menuju
Pos VIII berjarak 125 meter dan tim menempuh dengan waktu 15 menit.
Burung Anis Gunung.
Pos 9 Wadas Putih
Dari Pos VIII (STIGI) Tim kami melanjutkan Pendakian menuju Pos
IX (Wadas Putih) pos ini diambil dari bahasa jawa yaitu wadas putih yang
berarti batu putih yang menyimbolkan batu suci. Dengan track tanah yang
menanjak, rerumputan ilalang, pohon-pohon kering dan masih menemukan
Bunga Edelwis di pinggir jalur pendakian. Tim Kami juga menemukan
bekas kebakaran tahun 2016 silam yaitu pohon tumbang yang menghitam.
Pos IX (Wadas Putih) ini sebagai batas vegetasi menuju puncak.
Pada Pos IX (Wadas Putih) terletak pada titik koordinat BT 109 º13’14”
LS 07 º14’04” dengan ketinggian 3.163 MDPL. Jarak dari Pos VIII
sampai Pos IX sejauh 175 meter. Tim berjalan dari Pos VIII hingga Pos IX
selama 25 menit.
Puncak Penakir
Setelah Pos IX (Wadas Putih) Tim melanjutkan Pendakian menuju
Puncak Penakir dengan vegetasi yang terbuka, angin kencang, track curam
ekstrim, kontur berbatu yang sangat menanjak, jenis bebatuan yang kami
lewati sangat rapuh sehingga bisa mengakibatkan batu berjatuhan mengenai
tim yang ada di bawah, maka dari itu tim melangkah perlahan dengan hati
hati untuk memilih pijakan dan pegangan. Tim kami juga menemukan pohon
cantigi saat meunju puncak.
Cantigi memiliki daun berwarna hijau kemerahan, daun tebal juga memiliki
buah berbentuk bulat berwarna kehitaman jika sedang berbuah dan tumbuh
biasanya pada ketinggian 1.500 sampai 3.000 MDPL.
Puncak Penakir terletak pada titik koordinat BT 109 º 13’10” LS 07 º
14’17” dengan ketinggian 3.425 MDPL memiliki jarak sejauh 475 meter dari
Pos IX, untuk sampai Puncak Penakir tim menempuh perjalanan sekitar 4
jam 29 menit.
Komentar
Posting Komentar